Empat Hari untuk Selamanya

Ini adalah tulisan tentang perjalanan indah saat-saat menanti kehadiran jagoanku. Minggu-minggu terakhir penantian menjadi minggu paling galau untukku dan mamas. Sudah 3 minggu sejak aku cuti melahirkan dan belum ada tanda-tanda berarti.

Jumat, 22 Mei 2015
Sudah lewat dari 2 hari dari HPL yang diprediksi USG. Aku mulai harap-harap cemas. Mamas menyarankan untuk sms ke bidan kami. Dan menurut bidan, kami sebaiknya kontrol. Akhirnya, malam ini kami putuskan untuk kontrol ke bidan Juju, bidan tempat kami kontrol.

Sesampainya disana, kami melakukan USG untuk memastikan bahwa anaknya masih sehat. Dan Alhmadulillah, jantung masih bekerja normal dan posisi kepala sudan berada dibawah serta leher tidak terlilit tali pusar. Setelah cek USG, kami berkonsultasi ke bidan. Bidan mengecek berat badanku dan tensiku dan alhamdulillah semuanya normal.

Kemudian, dia memeriksa catatan kontrolku dan memutuskan untuk memberikan tenggat waktu. “Bu, ini memang sudah lewat HPL. Walaupun memang, kelahiran tuh bisa sampai 42 minggu, tp bagusnya bayi itu dilahirkan sebelum usia kandungan 40. Karena belum ada tanda apa2, khawatir rahimnya udah gak jadi tempat tinggal yang aman lagi buat bayi. Jadi jika hari Senin belum ada tanda2, saya kasih surat rujukan untuk ke dokter spesialis kandungan ya. Untuk konsultasi saja. Tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Mudah2an sih suratnya gak kepakai ya. Biasanya yang saya kasih surat rujukan gak kepake,” kata Bidan Juju.

Dan akhirnya, kami pulang dengan membawa amplop berisi surat rujukan ke rumash sakit untuk menemui dokter Enrico jam 9 hari Senin.

Setelah sampai di rumah, mamas bertanya, “kamu gak papa, diperiksa sama dokter cowok.” “Yah, mudah2an aja, gak perlu kontrol ya, mas. Ayo, dek, jangan sampe hari Senin mama kontrol, dek.” ucapku seraya mengelus-elus perut besarku, berharap si jabang bayi menjadi pengertian. Dan malam itu pun mejadi malam penantian lagi untuk kami.

Minggu, 24 Mei 2015
Minggu ini mamas giliran masuk malam, sehingga mamas bebas tugas alias tidak lembur di hari minggu. Kami pun memutuskan untuk jalan2 santai pagi ini.
Awalnya kami hanya ingin membeli nasi uduk dekat rumah. Tapi, diperjalanan, kami memutuskan untuk membeli bubur medan di pasar depen. Jarak tempuhnya cukup jauh. Tapi, demi buah hati, kamu pun menelusuri jalan itu.

Kami jalan santai, sambil berbincang ringan sambil sesekali berhenti karena aku merasakan ada kontraksi palsu. Hal yang jarang kami lakukan sebelumnya. Makan bubur dan membeli sayuran pesanan ibu di pasar dan kemudian pulang melalui jalan yang berbeda. Senang rasanya pagi itu bisa jalan2 berdua dengannya. Tak terasa, 2 jam sudah kami berjalan.

Sore harinya, kami membeli pupuk untuk menamam pohon yang kami beli dari mekarsari. Setelah itu, kami membeli es kelapa ditempat langganan kami. Dan, sebelum pulang, aku meminta mamas untuk membelikan aku “Cwie Mie”. Kami pun mampir sebentar. Sambil mengenang masa lalu, saat makan cwie mie untuk pertama kalinya. Hari minggu ini pun menjadi hari yang paling menyenangkan.

Senin, 25 Mei 2015
Jam setengah 3 pagi, seperti hari2 sebelumnya, aku merasa ingin buang air kecil. Antara setengah sadar, aku beranjak ke kamar mandi. Pagi itu, aku merasakan keram perut yang tidak biasa. Namun, aku hanya menyangka bahwa itu lagi2 cuma kontraksi palsu. Sebelum buang air kecil, seperti biasa, aku mengecek celana dalamku sambil berharap muncul flek darah tanda persalinan. Pemandangannya masih sama mengecewakan. Bersih, tidak ada bercak darah. Masih dalam keadaan setengah sadar, aku melihat ada setetes kecil merah mengalir bersama air pipisku. ‘Apa mungkin itu darah?’ aku mencoba menegaskan. Dan ketika aku melihat kebawah, sontak aku langsung memanggil mamas.

Ternyata, itu bukan lagi bercak darah tapi aliran darah yang cukup banyak. Aku membangunkan mamas dan menceritakan apa yang kulihat. Aku jg langsung buru2 mengenakan pembalut. Mamas mencoba menenangkan walaupun terlihat kalau dia jg panik. Kami mencoba tenang dan mulai memperhatikan apakah aku sudah mulai merasakan kontraksi yang konstan. Mamas juga menelepon bidan agar dapat disiapkan ruang bersalin. Aku mulai merasakan kontraksi setiap 5 menit namun belum terjadi kontraksi hebat. Dan jam set. 6, kami pun berkemas dan berangkat ke bidan.

Sampai di bidan, aku mulai diperiksa. “Masih pembukaan satu,” kata asisten bidan, “Boleh kalau mau pulang dulu atau mau tunggu disini juga boleh.” Akhirnya, dengan mempertimbangkan medan yang sulit dengan menggunakan kendaraan mobil, kami memutuskan untuk tetap tinggal. Ibu mertuaku yang saat itu mendampingi kami pun pulang ke rumah. Sementara ibuku dalam perjalanan ke depok dari bekasi.

Pukul 7 pagi, aku sudah mulai merasakan kontraksi yang lebih intens dan semakin sakit. Namun, masih bisa tertahankan. Mamas dengan setia mendampingi dan menghiburku. Jam 9, ibuku tiba di bidan juju setelah dijemput mamas. Aku amat sangat bersyukur ibuku bisa ikut mendampingi. Ibuku cerita, diperjalanan ia bilang pada mamas, kalau memang bayi terlalu besar, tidak ada salahnya mengambil tindakan sesar. Karena mamas cerita kalau prediksi USG 2 hari yang lalu bayi sudah mencapai 3,6 kg.

Akhirnya bidan juju datang memeriksa. “Saya cek dulu ya,” katanya sambil
memeriksa bukaanku. Rasanya tidak sakit tapi tidak nyaman,, hehehe. “Duh,” katanya usai periksa, “baru mau bukaan dua. Tadi terakhir periksa jam 6 ya. Mau diinfus aja?”. Infus berarti induksi yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan induksi sedikit demi sedikit untuk mempercepat kontraksi. Dan kami pun setuju.
“Oke, kita tunggu sampai jam 11. Kalau bukaannya masih lambat, baru kita ambil tindakan ya.”

Setelah jam 11, akhirnya aku pun masuk ke ruang bersalin. Bidan juju memeriksa kembali. Baru bukaan 2. Progressnya memang amat sangat lambat. Akhirnya, untuk pertama kalinya aku diinfus. Rasanya seperti disuntik. Namun, ada perasaan ngilu karena membayangkan jarum yang tertanam di tangan.

Dan, tidak lama setelah infus dipasang, barulah muncul kontraksi yang “sebenarnya”. Rasa sakitnya luar biasa. Setiap aku merasakan kontraksi, aku diminta untuk mengatur nafas. Disana ada mamas dan ibuku yang setia mendampingi. Sambil sesekali meremas-remas tangan mereka, aku diminta untuk berzikir. “Allahumma yasir wala tuasir. Ayo, ka, ikutin ibu”, bisik ibuku.
Mamas tidak lupa membaca doa di buku doa untuk persalinan.

Aku hampir tidak merasakan memikirkan apa2 kecuali rasa sakit yang luar biasa. Aku jg sesekali memarahi mamas tanpa sebab yang jelas (maafkan aku, mamas). Dan, rasa sakit itu membuatku mengantuk. Tp, ibu dan mamas terus berusaha membangunkanku.

Hingga akhirnya, jam 1, bidan juju datang memeriksa kembali. Masih bukaan TIGAAA. Dari sakit yang kurasakan dari jam 11, hanya 1 pembukaan saja. Masih ada 7 pembukaan lagi.

Aku hampir putus asa. Aku menangis. Membayangkan berapa lama lagi waktuku untuk merasakan sakit ini. Ibuku dan mamas mencoba menenangkanku. “Jangan nangis, sayang, nanti tenagamu habis.” kata ibuku.

Aku sudah tidak memperhatikan jam. Aku sudah tidak peduli lagi dengan keadaan disekitarku. Aku hanya ingin mengejan. Mengejan sekuat2nya. Tapi, bidan melarang. Benar2 sangat menyiksa. Bidan pun mengeluarkan cairan dari kantung kemihku. Itu membuatku sedikit lega. Di kainku sudah banjir darah dan kotoran tapi tidak air ketuban.

Bidan juju pun datang saat aku mulai merasakan mulas yang teramat sangat. Dia mengecek bukaanku dan langsung memberikan instruksi, “ayo, sekarang, miring ke kiri bobonya. Pahanya diangkat pake tangan kamu. Kepalanya nunduk liat perut ya. Kalau sudah kerasa mules, kejenin aja, skrg gpp.” Dan dengan sekuat tenaga, aku mengejan 2 kali mengambil nafas. Bidan juju dan asistennya terdengar menyemangati, “ayo2, pinter pinter”. 2 kali kontraksi masih dalam posisi yang sama.

Setelah itu, bidan memintaku untuk berbaring. Sebelumnya, dia bertanya, “mau didampingi siapa? Satu orang saja ya?” Dan aku meminta ibuku untuk masuk. Aku meminta ibuku karena aku tidak tega melihat mamas melihatku mengejan kesakitan, walaupun aku tau, dia sudah mempersiapkan diri dan siap mendampingiku. Saat aku berbaring, ibu sudah ada disampingku. Dan, bidan memberikan instruksi lagi kepadaku untuk mengangkat kaki dan memeganginya dengan tanganku. Ibu membantu memegangi bahuku.
“Nah, kalau sudah kerasa mules kayak mau ee,.kejen yang keras jangan pake suara. Matanya fokus kesini (bidan nunjuk puser). Skrg udh kerasa belum?” dan aku mengangguk. “Oke, tarik nafas yang panjang trus nejen… Ayo ayo,,, trus trus trus,,,”diikuti oleh suara2 penyemangat dr asisten l2 bidan dan ibuku. Ketika rasa mulasku hilang, bidan menyuruhku istirahat sejenak sambil memceritakan posisi bayi, “ayo, semangat ya, tuh udh kelihatan kepalanya.” Dan setelah mulai terasa adanya kontraksi, akupun mengejan lagi sekuat tenaga.

Hal itu terus berlangsung beberapa kali, hingga akhirnya ibuku berkata, “ayo ka, tuh rambutnya udh kelihatan. Kejen yang kenceng, jangan bersuara. Ayo kamu kuat, ka.” Sementara bidan menambahkan, “Ini yang terakhir ya, kalau gak bs keluar juga, terpaksa digunting. (Sambil terdengar suara gunting yang seketika menjadi menyeramkan). Soalnya kesian dedenya takut kekurangan oksigen.”

Akhirnya, dengan tekad dan semangat untuk tidak digunting, akupun mengejan dengan seluruh kemampuanku, dan tangisan itu pun pecah diruang bersalin.
“Alhamdulillaaaaahhhhh….” itu kata pertama yang terucap olehku.

Tidak ada yang lebih melegakan dan membahagiakan selain mendengar suara pertama Emilku. Semua rasa sakit itu sejenak terlupakan. Ibuku, ibu mertuaku, mamas, semua masuk dan menyambut bayi mungil kami. Dari sebelah ruang persalinan, kudengar mamas mengumandangkan adzan untuk emil. Dan kemudian, aku tersadar, aku mau melihat bayiku. “Bayinya 4 kg,” kata salah seorang disana, entah siapa aku lupa. Dan ibuku langsung membawanya kesampingku, dan membiarkanku menciumnya sebelum membawa keluar ruangan, sementara bidan menjahit luka bekas persalinan. Dan untuk pertama kalinya juga dalam hidupku aku dijait. “Berapa jahitan, dan?” tanyaku pada Bidan Juju setelah dia selesai menjait lukaku. “Berapa ya? 5 + 6, 11 jaitan,” katanya seraya menyeka keringat.

Asisten bidan pun memanggil mamas untuk menuntunku ke ruang perawatan setelah meyakinkanku apakah aku sudah kuat berjalan atau belum. Dan disampingku sudah ada box berisi bayi mungil yang lucu yang akhirnya kami beri nama Pratama Emil Tsaqif.

Tak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya kami saat itu. Melihat bayi kecil kami yang nantinya akan mengubah hidup kami. Amanah yang luar biasa dari Allah yang diberikan kepada kami. Semoga kami dapat mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Dan, ini adalah Jagoanku yang kedua. Dua jagoanku yang paling aku sayang. Abi Ashari dan Emil.

image

Categories: Uncategorized | 2 Komentar

Catatan Awal November

November mestinya sudah hujan setiap hari. Tapi sampai sekarang, hujan masih ogah-ogahan nongol di Jakarta. Hufff, rasanya mau nambah AC aja. Panas bangeet.

Ini sepertinya tulisan pertamaku di Tahun ini dan sudah akhir tahun. Kalau diingat-ingat, sudah 2 tahun aku berkutat di tempat kerja. Klo flashback, seperti sudah banyak yang berubah, walaupun ada yang masih tetap sama (in good way and bad way). Oia, aku hamil. Sudah masuk minggu ke 12. Berdasarkan hitungan medis, aku sudah hamil dari 17 Agustus 2014… hihihi… Rasanya, mual dan lemes. Sering kepanasan juga, klo udah kepanasan, pusing mual dan muntah. Belum lagi harus berjuang di kereta. Tapi, alhamdulillah, debay kuat. Semoga jadi anak yang kuat dan sehat dan pinter ya, de.

Nah, hari ini, ada beberapa hal yang sepertinya aku temukan lagi dan lagi. Ya, ini tentang pekerjaan. Pekerjaan yang mengisi sebagian besar hariku. Tapi bukan hidupku. Sering aku menemukan pertanyaan yang terdengar disambung-sambungkan. Dan, aku sebagai orang yang mengetahui, walaupun bukan yang serba tahu, jadi merasa hal ini seharusnya tidak perlu ditanyakan. Tapi, kembali lagi, karena yang bertanya adalah orang yang tidak tahu, maka tugas kitalah menjelaskan.

Contoh:

Suatu perusahaan bertanya, “Apakah M*I tau tata cara sertifikasi halal lembaga di Malaysia?”. Klo emosi, jawabannya cuma, “Meneketeheeee”. Tapi karena kita harus bersikap bijak, kita akan menjawab: “Mohon maaf, kami tidak mengetahui hal tersebut karena masing-masing lembaga memiliki regulasi berbeda-beda.”

Atau,

“Gimana ya, kalau gak ada kejelasan mengenai UU J*H ini? Karena kita kan ingin melakukan persiapan juga untuk ini?”. Klo lagi panas, jawabnya, “Emang nenek gue yang bikin peraturan? Kami aja blom jelas posisinya gimana….”. Tapi karena harus bersikap kalem, “Posisi kami juga sama dengan perusahaan, bu. Menunggu peraturan tersebut diperjelas. Status kami sama-sama sebagai eksekutor. Disini, kami bukan yang berwenang dalam membuat peraturan tersebut.”

—-

Ini beberapa contoh. Ditambah lagi co-workers yang terkadang tidak kooperatif. Tapi, sekali lagi, aku disini berjuang bukan untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain, tapi untuk halal. Jadi, sebesar apapun ke-gondok-anku dengan seseorang, yang penting perusahaan tetap terlayani dengan baik.

Dan selama debay sehat, aku tetep seneng… 😀

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Flashback

“Tulisan ini harus dibaca dalam keadaan pikiran yang diset “positif””

once upon a time on earth…

flashback_lg

Menenangkan

Kejadian hari ini membuat gw butuh “sedikit” (baca: banyak) flashback tentang awal gw masuk tempat kerja. Yup, karena hari ini membuat semangat gw “sedikit” (baca: banyak) luntur. Baru satu tahun lebih beberapa hari gw kerja ditempat gw yang sekarang.

Dan ini adalah saat dimana titik jenuh gw mulai mengkristal. Mungkin tinggal nunggu pecah dan akhirnya ancur. Tapi dengan setetes sisa-sisa harapan, gw mencoba untuk mencairkan, mengencerkan kembali.

Ini bukan tentang gw yang diomelin sama bos, karena, gak ngerti knp bisa, gw udah mulai tebel muka, dan kebal hati sama hal itu. Ini juga bukan tentang “rekan” kerja yang kadang (baca: gak jarang) ga kooperatif dan mau menang sendiri (come on, dude, life is a race, you survive, you win, you lost, you end). Ini bukan juga tentang kerja serabutan atau lembur tanpa bayaran. Ini tentang apresiasi, tentang punishment yang sekarang makin gw rasakan kepergiannya.

Banyak hal yang gw pelajari dari kritikan, omelan, dan saran. Mungkin yang gak bisa dipelajari emang pujian. Makanya, diajarkan kan, klo ada yang memuji sebaiknya dilempar pasir. Karena pujian itu gak banyak manfaatnya selain ngegedein kepala dan buat basa-basi-busuk. Orang-orang kritis seharusnya lebih  diperbanyak dalam keseharian kita karena dari merekalah kita tetep menginjak tanah.

Seperti kemarin sewaktu ayah jemput pulang dan berkata, “Kamu kalo kerja tuh bukan cuma harus rajin aja… tp yang bisa nguntungin perusahaan juga,,, klo kamu kerja ampe lembur gini ternyata gak menguntungkan perusahaan, buat apa?” Well, that’s right.

Setidaknya, keyakinan bahwa “Allah Maha Melihat” masih gw pegang kuat-kuat. Dan, gw percaya, segala kebaikan yang dikerjakan dengan ikhlas, bakal diberikan reward dari Allah. Ikhlas itu, menurut gw, disaat logika lo bilang itu pekerjaan berat, lo tetep enteng ngejalaninnya. Nah, pada saat itu gw mulai berfikir, apa mungkin keikhlasan itu mulai luntur ditimpa sama pengharapan apresasi dan penghargaan atau lain-lainnya yang bersumber dari manusia?

Selama ini keikhlasan gw luntur berangsur-angsur karena gw lebih banyak mengharapkan apresiasi dari manusia. Selain itu perbuatan yang sia-sia yang tidak disukai Allah, apresasi itu hanya membuat gw semakin sakit hati karena membuat gw semakin banyak itung2an klo berbuat kebajikan sementara pada kenyataanya yang lo anggap “kebaikan” itu cuma sesuatu yang mereka anggap “TUGAS” yang udah semestinya lo kerjain sementara ketika lo berbuat kesalahan yang lo anggap sepele, they are so “vicious”…

Tiap orang pegen dihargai, dan keinginan itu yang sering menjadikan mereka orang yang suka mengatur, negatif thinking, dan sebagainya. Hal itu muncul karena perasaan takut. Takut tidak dihargai, takut tidak dihormati sebagai pimpinan, dan sebagainya. Gak bisa disalahkan. Tapi semestinya bisa dikontrol. Think positive, that’s probably one of the way.

Orang akan dihargai karena dedikasinya, karena dia juga menghormati orang lain, karena dia menghargai orang lain. Namun, sangat non sense jika ingin menghidari orang yang tidak suka denganya. Karena, like the donkey story told us, setiap langkah kita berjalan, pasti ada orang saja komentar orang yang tidak menyenangkan. Yang pasti, akan terasa lelah apabila kita berusaha membahagiakan semua orang.

So, gw mulai flashback, apa yang menyebabkan gw pengen banget kerja disini? Awalnya niat gw pengen jadi orang yang berkontribusi buat umat. But, then, gw pikir lagi, terlalu luas lingkup harapan gw. Jadi, gw persempit niat gw. Niat gw kerja disini buat ngebantuin UKM yang punya usaha, punya kemauan besar buat jadi lebih baik dengan berkomitmen membuat produk halal dan mengikuti semua persyaratan yang gw akui cukup rumit buat usaha kecil. Gw pengen orang2 itu gak ngerasa “kapok” buat “ngehalal-in” produknya. Karena, dari usaha-usaha kecil mereka itulah, banyak orang kecil yang kebantu. Dan, gw sebagai rakyat kecil yang suka jajanan warung, juga gak ngerasa takut lagi jajan. Karena jajanan itu yang paling deket dengan kita.

Yep, itulah, ternyata tetesan-tetesan terakhir semangat gw masih bisa membuat kejenuhan gw mengencer kembali. Bismillah, kita jalanin hari esok dengan hal yang lebih baik dan bermanfaat. Semoga masih banyak cadagan semangat gw buat menempuh perjalanan ini. Amin. 😀

Yes, we can!

Epiloge:

Well, klo ada Bapak, Ibu, Nenek, Kakek yang punya usaha kecil, mari merapat buat daftar sertifikasi halal. Mungkin gw gak bisa bantu secara biaya, tapi, klo lo bisa jualan dengan pendapatan sehari minimal diatas dua puluh ribu perhari dengan asumsi penjualan setiap hari, gw rasa lo bs nyisihin sebagian pendapatan jualan lo dua tahun sekali buat sertifikasi halal. Dan gw yakin banget, halal bakal ngebuat usaha lo makin maju. Kuncinya komitmen yang kuat, tekad gak pantang menyerah.

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Gak Marah, Cuma Sedih

Gak Marah cuma sedih…
Knp pertanyaan baik-baik dijawab dengan cara ngebentak?

Ya, mungkin emang sayanya yang rese… Maaf ya…

Biarlah, orang sabar yang menerima saya…

Maaf…

Posted from WordPress for BlackBerry.

Categories: thought | Tinggalkan komentar

Kisah Si mimi dan si Momo

Diceritakan sepasang boneka bernama momo yang mencintai boneka cantik bernama mimi. Dia memiliki impian untuk selalu bersama mimi. Mimi yang sudah mengenal momo pun akhirnya jatuh hati padanya. Dan mereka memutuskan untuk selalu bersama-sama. Momo selalu menjaga mimi, memberikan perhatian kepada mimi. Melindungi mimi dari teriknya matahari yang menembus jendela etalase tempat mereka dipanjang. Hingga suatu hari seorang gadis membeli momo dan menjauhkannya dari mimi. Tapi setiap malam momo selalu mengirimkan pesan boneka kepada mimi. Dari Jendela ke Jendela, dari etalase ke etalase hingga pesan itu tersampaikan ke etalase tempat Mimi dan Momo dahulu dipajang, yang kini hanya tinggal mimi seorang.

Mereka pun saling bercerita. Hingga momo mengetahui bahwa mimi bukanlah boneka yang sempurna. Mimi selalu kesal apabila momo terlambat mengirimkan pesan kepada mimi. Dan ketika momo sakit, mimi malah membuat momo kesal. Mimi pun akhirnya menyadari, bahwa dia masih jauh dari harapan momo. Dia bukanlah gadis yg bisa membahagiakan momo. Sebagai boneka yang hidup sendiri di toko besar yang penuh anak-anak, mimi pun memilih untuk turun dari etalase. ‘Mungkin, itu jalan yang terbaik untukku dan momo. Momo tidak boleh terperangkap olehku. Momo harus mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia. Dan itu bukan bersamaku.’

Mimi pun berjalan menuju gudang belakang sehingga tidak ada yang bisa menemukannya termasuk pesan momo. ‘Momo tidak boleh terus-terusan hidup dalam kekecewaan. Momo berhak mendapatkan boneka yang lebih baik. Goodbye momo. Live happily forever.’

To be continued….

Posted from WordPress for BlackBerry.

Categories: Story | Tag: | Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: